Blogor nonton PERTARUHAN
Hari minggu tanggal 20.04.09 saya dengan barudak blogor (Ismi, Fajar, Ivan, Dita) dapat undangan untuk menonton film dokumentar tentang perjuangan hak asasi perempuan, sekitar jam 9:30 di cinema 21 ekalokasari, tadinya saya gak sempat hadir ketika ismi ngajakin… tapi pas mendekati hari H nya saya menyanggupi untuk hadir
karena ini kali pertama saya melihat film dokumenter di cinema…
Film yang mengambil judul “PERTARUHAN” yang berdurasi sekitar 106 menit ini dan mengambil lokasi shooting di daerang Jakarta, Indramayu, Malang, Tulung agung, dan Hongkong, menurut saya film ini menceritakan perjuangan perempuan melawan tindakan-tindakan diskriminatif, bahkan ketika hak-hak yang mendasar dalam hidupnya belum dapat terpenuhi secara merata, dari mulai hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan sampai hak untuk memperoleh pekerjaan yang layak, sepertinya pembuat film ini tidak mengharapkan yang melihat berpihak dengan apa yang diceritakan di dalam film, tapi hanya ingin yang melihat itu paham bahkan memahami akan masalah-masalah perempuan.
Sinopsis
PERTARUHAN, sebuah dokumenter kolektif yang berkisah tentang berbagai kontroversi seputar tubuh perempuan yang telah lama menjadi perdebatan di sekitar kita. Di Indonesia, praktek sunat pada perempuan diterima secara luas oleh berbagai kalangan dengan alasan untuk “membersihkan” anak perempuan dari spirit setan yang akan mengarahkannya menjadi liar.
Meski demikian, sampai sekarang masih banyak orang yang tidak sadar akan adanya praktek ini. “UNTUK APA?” membawa penonton pada semrawutnya kepercayaan dan konteks dibalik praktek sunat perempuan. Orang Tionghoa percaya semakin tinggi tanah kuburan, mereka yang telah mati akan semakin dekat dengan nirwana. Gunung Bolo adalah kompleks kuburan Cina berbentuk bukit yang terletak di Tulungaggung. Selepas senja, kompleks kuburan yang tenang dan sunyi ini berganti fungsi menjadi lokasi prostitusi liar.
Nur dan Mira adalah pemecah batu yang malamnya menjadi pekerja seks di Gunung Bolo. Sepanjang hari mereka bekerja keras namun pendapatan mereka tidak pernah mencukupi. “RAGAT‘E ANAK” menggambarkan betapa kerasnya perjuangan Ibu untuk membiayai anaknya.
Di Indonesia, persepsi perempuan lajang adalah mereka yang tidak berhubungan seksual. Status “tidak menikah” ini menjadi kendala ketika mereka berusaha memeriksakan kesehatan reproduksinya. Mereka kerap kali terbentur dengan persepsi moral yang dituduhkan oleh pihak obstetri dan ginekologi / SpOG (Kebidanan dan Kandungan). Dengan mengikuti usaha para “Nona” dalam mendapatkan akses pelayanan kesehatan, “NONA NYONYA?” mempertanyakan pentingnya kesehatan versus penilaian moral.
Dalam “MENGUSAHAKAN CINTA”, Ruwati dan Riantini memilih menjadi buruh migran di Hongkong karena pendapatan yang lebih memadai daripada di Indonesia. Selain itu, di Hongkong mereka juga mendapatkan kebebasan dalam otonomi terhadap tubuh. Rian yang seorang lesbian, takut membawa hubungan cintanya saat ia kembali ke Indonesia. Adapun Ru, kerap gamang karena keperawanannya dipertanyakan oleh calon suami yang menunggunya. Dapatkah kedua perempuan ini memutuskan apa yang penting dalam hidup dan cinta?
Catatan Produksi
Tim Produksi
Penulis & Sutradara : Ucu Agustin, Lucky Kuswandi, Iwan Setiawan & M. Ichsan, Ani Ema Susanti
Produser : Nia Dinata
Co-Produser : Vivian Idris
Produser Eksekutif : Constantin Papadimitriou
Supervisi Produksi : Abduh Aziz
Supervisi Tema : Myra Diarsi
Line Produser : Nina Desilina, Cinzia Puspita Rini, Ferry Ardiyan, Kresna Astraatmadja & Ray Nayoan
Penata Kamera : Hoka Boy, Goen Guy Gunawan, Rudolph Angelo Ratulangi
Penyunting Gambar : Aline Jusria, Bernardes Salvano
Penata Musik : Aghi Narottama, Bemby Gusti
Tags: Blogor, Dokumenter, Film, Perempuan, Perjuangan, Review






Anka, lo masang gambarnya alat itu pulak.
Serem gitu gw ngeliatnya +_+